Sabtu, 02 Januari 2010

PHITAGORAS GOES TO BALI AND YOGYAKARTA

CATATAN 1
Selasa, 5 Mei 2009
Hari ini mungkin adalah hari yang paling ditunggu oleh kami para siswa kelas XI IPA 1. Bukan karena ada liburan atau pensi, tapi kami akan melakukan perjalanan panjang ke Bali dan Yogyakarta selama 7 hari. Pihak sekolah dibantu oleh para guru wali kelas dan komite telah mempersiapkan acara ini dengan sebaik mungkin. Dari pemilihan travel, bis, sampai objek – objek wisata yang akan kami kunjungi nanti pada saat di Bali dan Yogyakarta.
Perjanjian awal kami harus tiba di sekolah hari ini pada pukul 5 tepat. Tapi sampai pukul setengah 6 baru setengah dari kami yang tiba di sekolah. Beberapa dari kami ada yang membawa barang sangat banyak, mungkin itu adalah sebuah antisipasi dari perjalanan yang panjang ini. Upacara baru dimulai pada pukul setengah 6. Seperti layaknya orang Indonesia lainnya, budaya ngaret juga diterapkan pada acara ini.
Ketika pihak travel dan kepala sekolah selesai memberi sambutan, lantas kami langsung masuk ke dalam bis bernomor 5. Sambil bercerita kami menanti keberangkatan yang sudah ngaret 30 menit. Pak Hasyim, yang notabanenya bukan guru yang mengajar di kelas kami, mulai mengabsen satu persatu penghuni bis 5. Ternyata Pak Hasyim juga akan ikut dalam rombongan bis 5.
”Tidak boleh duduk dengan lawan jenis”, ketika Pak Hasyim bicara seperti itu lantas kami langsung melihat ke Raka dan Fina. Siapa yang tidak tahu mereka, pasangan yang selalu setia bersama. Fina langsung dipindahkan ke depan bersama Ola dan Raka duduk bersama Sigit
Jam 7 tepat. Bis 5 kami mulai bergerak perlahan, berusaha keluar dari gang SMA 60 yang sangat sempit. Bis yang berlabel ”BLUE STAR” dengan sangat perlahan maju sedikit demi sedikit berusaha keluar dari gang ini.

Teman Pertama
Ketika bis kami sedang berusaha keluar dengan perlahan dari gang yang sempit, di bagian depan bis muncul sesosok perempuan muda, yang kami kira umurnya sekitar 20 tahunan. Ketika dia memperkenalkan dirinya, ternyata dia adalah pihak travel yang akan menemani kami selama 7 hari perjalanan ini.
Kak Wiwit, kami bisa memanggil teman pertama kami itu di perjalanan ini. Mungkin dari fisiknya dia adalah teman yang ramah dan akan menjadi teman yang menyenangkan di sepanjang perjalan kami.
Ketika bis 5 sudah tiba di jalan besar, Pak Tisna, Supir bis kami langsung tancap gas. Menyusuri jalanan Ibu Kota Jakarta yang akan kami rindukan untuk sementara. Apalagi setelah bis kami memasuki jalan tol, Pak Tisna bagaikan pembalap F1 melewati satu demi satu mobil – mobil di jalanan. Padahal ukuran kendaraan kami sangat berbahaya bila digunakan untuk ugal – ugalan. Tapi kami sangat mengerti karena Pak Tisna mengejar jadwal yang sudah ditentukan pihak travel. Lagipula sebagian dari kami tidak memperhatikan jalananan. Kami sudah sibuk dengan foto, ngobrol, ataupun ngemil makanan yang sudah kami persiapkan.

2 Insiden Pertama
Pada saat bis sedang melaju kencang, Raka yang ingin mengambil makanan di tas Fina terbentur kepalanya di besi pegangan tangan bis. Benturan itu menimbulkan bunyi yang kencang dan semua penghuni bis langsung menatap Raka dan tertawa. Raka yang masih setengah sadar hanya tertunduk malu dan langsung duduk di samping Fina dengan lemas. Fina langsung mengolesi kepala Raka yang sudah bengkak besar dengan balsem.
Bukan hanya itu, setelah Fina mengolesi kepala Raka dengan balsem, Raka yang langsung kembali pindah ke belakang mencium sesuatu bau busuk yang berasal dari depan. Ternyata bau itu berasal dari Fina yang sudah muntah banyak. Fina yang mempunyai fisik lemah sudah mabuk darat. Pantas saja, Pak Tisna membawa bis dengan sangat kencang. Fina langsung dievakuasi ke tempat duduk depan oleh Bu Nartini, wali kelas kami. Sekarang gantian, Raka yang mengolesi minyak kayu putih ke Fina.
Tidak terasa bis kami sedang menyusuri tepi pantai utara. Ternyata kami telah berada di Indramayu, kota penghasil garam dan minyak bumi. Kami sangat menikmati pemandangan ciptaan sang kuasa. Beberapa menit dari kota Indramayu, kami telah tiba di kota Cirebon. Di kota ini kami akan makan siang.
Di rumah makan ini kami langsung berbaur dengan kelas lain yang berasal dari bis lain. Makanan yang tersedia di sini bisa dibilang bukanlah selera kami, tapi karena perut kami terasa tidak enak dan perjalanan masih sangat panjang, kami terpaksa manikmati hidangannya. Senyuman teman – teman membuat rasa makanan yang hambar menjadi sangat nikmat.
Perut kami kembali terisi walaupun tidak kenyang. Tapi kebahagiaan yang menanti di Pulau Bali membuat kami sangat menikmati perjalanan ini. Perjalanan kembali dilanjutkan. Tidak terasa kami telah berada di Jawa Tengah. Kota Brebes berkesempatan menjadi kota yang pertama menyambut kedatangan kami di Jawa Tengah. Seperti biasa, sepanjang perjalanan kami selalu tertawa, bercerita, dan mengumbar canda dan tawa. Kami seperti merasa pergi bersama keluarga sendiri.
Matahari telah sembunyi dari kami. Senja mulai naik menyinari bis kami. Kini kami menyadari bahwa hari telah sore. Beberapa kilometer dari kami terdapat kota Semarang. Sebelum ke sana, kami mampir untuk kembali mengisi perut kami yang telah kosong kembali. Rumah makan di Gringsing kali ini cukup luas. Tempatnya juga nyaman. Lumayan daripada rumah makan yang di Cirebon tadi.
Kak Wiwit bilang kami harus menunggu beberapa saat sebelum kami mengisi perut. Sebelum mengisi perut, kami tidak lupa untuk solat. Karena kami belum solat dzuhur, kami menjama’nya dengan ashar. Musollahnya cukup sepi, itu karena bis kami yang pertama tiba di sini. Pak Hasyim yang guru Agama Islam langsung sigap menjadi pemimpin solat kami.
Makanan telah tersedia setelah kami selesai solat. Ternyata bis lain telah tiba dan lebih mendahulukan makan. Kami tidak begitu kesulitan untuk mengambil makanan, karena kelas lain sudah mengambil makanan terlebih dahulu. Menu makanannya cukup menggugah selera. Ada daging!! Kami rindu daging, karena makan siang tadi hanyalah sayur.
Setelah selesai makan malam, adzan mahgrib berkumandang. Kami langsung menuju musollah kembali. Kali ini musollah sangat penuh karena yang akan solat adalah penghuni 5 bis lainnya selain kami. Tapi kami tetap melaksanakan solat.
Pukul 7 tepat. Kami sengaja tidak langsung melaksanakan solat isya di sini. Karena kami mendapatkan kesempatan untuk solat di masjid yang sangat mulia di Jawa Timur.
Perjalanan malam kami lanjutkan. Di sini Pak Tisna digantikan dengan Pak Revan. Bisa dibilang Pak Revan tidak beda dengan Pak Tisna. Sama – sama pembalap jalanan. Hanya saja Pak Revan jago dalam kegelapan malam.

Indahnya Rumah Allah
Kami sempat terlelap beberapa saat sebelum tiba di masjid Agung Demak. Dalam keadaan setengah sadar, kami berusaha mengamati sekeliling kami yang ternyata sedang gerimis kecil. Saat kami akan bergegas menuju Masjid Agung Demak dengan berjalan kaki, Nabillah bertanya kepada Raka, ”musollahnya di mana sih?” Nabillah tidak sadar bahwa kami akan melaksanakan solat isya di Masjid Agung Demak.
Dari sentral parkir di alun – alun Kota Demak, kami berjalan beberapa meter menuju masjid. Dari depan telah terlihat indahnya bangunan dengan umur ratusan tahun tersebut. Masjid ini tetap berdiri kokoh, walaupun telah beberapa kali Indonesia berganti presiden dan ratusan tahun Indonesia terjajah.

















Sebenarnya kami bisa solat di dalam masjidnya, tapi masjidnya hanya dibuka hingga sore hari. Satu hal lagi, di Masjid Agung Demak banyak sekali pengemis. Itu juga pengemis dengan banyak kedok. Ada yang berpura – pura membawa kotak amal ataupun bayar penitipan sandal. Sebelum kami sampai di Masjid Agung Demak ini, kami telah dipesankan oleh Kak Wiwit agar jangan sekalipun memberi uang kepada pengemis itu. Karena hal tersebut akan membuat pengemis yang lain minta kepada kami.
Kami hanya beberapa saat singgah di rumah Allah itu, selanjutnya kami langsung bergegas kembali menuju bis untuk melanjutkan perjalanan malam. Ternyata Pak Revan telah menanti kami. Kami mengira Pak Revan sudah tidak sabar untuk memacu kencang bis 5 di malam hari.
Pukul 9 tepat bis kami melangkah meninggalkan sentral parkir di alun – alun kota Demak. Sepertinya kami sangat berat meninggalkan bangunan suci ini. Tapi di sana, Bali sedang menunggu kedatangan kami. Selamat tinggal Demak!!



“Tuhan, jika memang suatu saat kekasih ku akan membenci ku dan musuh ku akan lebih membenci ku, maka ku mohon dengan sangat, biarkan semua sahabat – sahabat di kelas XI IPA 1 ku ini tetap menjadi sahabat ku”
(Bambang Sigit)


CATATAN 2
Rabu, 6 Mei 2009
Kami sedang tertidur lelap. Pak Revan sedang berkonsentrasi memperhatikan jalanan malam. Beberapa orang dari kami terbangun karena kencangnya bis kami melaju.
Subuh telah datang. Kami tiba di sebuah SPBU di daerah Surabaya. Kami akan solat di sini. Musollahnya cukup bagus dan nyaman. Lagi – lagi kami yang tiba pertama, jadi kami tidak perlu rebutan untuk giliran solat.
Selagi kami menunaikan solat subuh, bis kami sedang mengisi perutnya. Satu persatu dari kami mulai menaiki bis. Sepertinya kami masih merasa sangat ngantuk. Setelah semua dipastikan sudah komplit, Pak Revan langsung tancap gas. Entah apa yang membuat kami kembali tertidur pulas.

SIDOARJO BERLUMPUR
Matahari telah menampakan diri. Dingin sekali di dalam bis. Kami semua mempertebal baju di tubuh kami. Tampak kami sedang melewati jalan tol. Kak Wiwit bilang kita sedang berada di Sidoarjo. Lantas kami langsung penasaran dengan lumpur panas.
Bis kami keluar dari jalan tol. Bukan karena sudah tiba di tujuan, tapi karena tol ini terputus. Di luar terlihat bendungan besar untuk menahan tekanan lumpur. Tadinya tidak ada rencana untuk melihat lumpur panas, tapi beberapa bis di depan kami ternyata telah berhenti. Kami diberi kesempatan untuk melihat lumpur panas dari dekat selama 5 menit. Karena perjalanan kami masih sangat panjang.
Kami berjalan menapaki jalanan terjal menuju atas bendungan. Tampak beberapa warga sekitar menagih beberapa rupiah dari kami untuk melihat lumpur. Tapi kami tidak peduli. Kami tetap penasaran seperti apa lumpur yang selama 2 tahun ini menghebohkan dunia.
Seperti lautan. Seperti kubangan besar. Seperti bencana kiamat. Kami tidak percaya ini semua bisa terjadi. Panasnya lumpur tersebut bisa terlihat dari asap yang timbul. Tampak beberapa atap pabrik PT. MINARAK LAPINDO. Sejauh mata memandang ke depan hanyalah lumpur yang terlihat. Kami sadar kami bukan apa – apa di hadapanmu Tuhan. Cukup sudah kami puas meratapi fenomena alam tersebut. Kami bergegas menuju bis. Masih panjang perjalanan kami untuk sampai ke pelabuhan.
















Ternyata sepanjang perjalanan, kami diperlihatkan indahnya panorama alam Jawa Timur. Pegunungan yang hijau, lautan yang biru, sawah yang luas. Mata kami tidak pernah lelah untuk melihat.
Saat ini pukul 1 siang. Kami tiba di daerah Watudodol di Banyuwangi. Kami hampir tiba di Pelabuhan Ketapang, tapi sebelum menyebrang kami makan siang dulu di salah satu rumah makan.
Di rumah makan ini kami sungguh dimanjakan oleh pemandangan yang sangat indah. Rumah makan ini terletak di pinggir laut. Beranda belakang rumah makan ini langsung menghadap Pulau Bali yang sudah tampak di pelupuk mata. Desir ombak membawa angan kami sudah tiba di Pulau Dewata.
Melihat Pulau Bali, kami hanya ingin cepat menyebrang ke sana. Kami tidak memperdulikan menu makanan rumah makan ini, yang penting cepat ke Pulau Bali. Setelah selesai makan, kami cepat berlari menuju bis dan memaksa Pak Tisna memacu kencang menuju Pelabuhan Ketapang yang hanya berjarak 15 menit.

WELCOME TO BALI
Ternyata ketika kami sampai di Pelabuhan Ketapang, kapal yang akan mengangkut kami sudah merapat. Jadi kami tidak perlu menunggu lama. Ketika bis kami berusaha untuk memasuki dek kapal, kami semua diharuskan turun. Lantas kami bergabung dengan kelas lain dan segera menuju ke tempat duduk di bagian atas kapal. Dari atas kapal ini, kami melihat indahnya lautan Selat Bali.
Kami merasa kapal mulai bergerak maju membawa kami ke pulau seberang. Saat ini tidak akan ada yang bias menggantikan kebahagiaan ini. Kapal yang berjalan perlahan memaksa angin laut masuk ke dalam kapal. Mengakibatkan Claudya dan Fina mulai mabuk laut.
Sementara yang lain, sibuk menikmati indahnya pemandangan, berfoto, dan mengabadikan momen tersebut. Kami hanya bisa mengucapkan, selamat tinggal Jawa, dan welcome to Bali!!!












Kapal mulai merapat di Pelabuhan Gilimanuk. Sesampainya di sana, kami telah ditunggu oleh beberapa orang dari kepolisian Bali yang akan mengawal kami selama berada di Bali. Kapan lagi jadi orang penting, apalagi di Bali.
Ternyata dari Pelabuhan Gilimanuk menuju hotel kami yang berada di pusat Bali memerlukan waktu 3 jam. Kami harus melewati hutan yang lebat dan pinggiran pantai yang indah.
Pukul 7 malam waktu Bali, kami mulai memasuki pusat kota. Mulai terlihat beberapa aktivitas warga. Mereka sibuk memperhatikan kami yang dikawal oleh polisi. Karena kami keseluruhan ada 6 rombongan bis. Cukup banyak untuk ukuran anak sekolah.
Pukul setengah 9 waktu Bali, kami sudah sampai di hotel kami. Hotel yang bernama Gatsu bagi kami lumayan kecil dari luar, tapi setelah kami masuk ternyata cukup nyaman untuk kami tempati selama 3 hari ke depan. Di sini kami harus berpisah dengan 4 bis lainnya yang mengangkut anak IPS, mereka menginap di hotel lain.


“Mutiara tidak lebih berharga daripada sahabat”
(Agung Nurani)









































CATATAN 3

Kamis, 7 Mei 2009
Hari ini adalah hari pertama kami di Pulau Bali. Kami terus menerus tidak bisa menghentikan senyum dan tawa di antara kami. Tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah atraksi tari barong dan keris.
Kami penasaran dengan kesenian yang satu ini. Karena jujur, kami hanya tahu tari kecak saja. Setelah kami selesai sarapan, kami langsung menuju bis. Ternyata Pak Tisna sudah menunggu.

GUIDE YANG ANEH
Ketika bis akan berjalan keluar perkarangan hotel, muncul seorang lelaki berpakaian khas Bali di depan bis kami. Dia memperkenalkan diri. Namanya Jaya, beliau minta dipanggil Beli Jaya. Ternyata beliau adalah seorang guide local yang akan menemani kami selama di Bali. Sekilas beliau hanya seorang lelaki lusuh biasa. Kami akan mengira beliau akan banyak mengoceh, atau seperti memamerkan pulau tempat beliau tinggal.
Perjalanan menuju tempat kesenian tari barong dan keris, guide itu berbicara tentang asal usul urutan nama untuk orang Bali. Kami hanya mendengar saja, tidak begitu tertarik dengan apa yang beliau bicarakan. Pemandangan di luar lebih menarik.
Tidak terasa kami telah sampai di tempat kesenian. Di sini kami merupakan pengunjung yang pertama. Pantas saja, sekarang baru pukul setengah 9 waktu Bali, tapi pertunjukan baru dimulai pukul setengah 10. Kami terlalu cepat tiba.
Semua itu tidak membuat kami bosan. Kami tetap sabar menanti pertunjukan yang kata si guide itu sangat lucu. Mulai terdengar pukulan gong dan gendang Bali. Di depan panggung terlihat seorang sedang menaruh sesaji. Kata Kak Wiwit itu akan banyak kami temui di Bali dan kami tidak boleh mengusiknya.
Pertama keluar seekor binatang mitologi yang bernama Barong. Kami tidak mengerti apa maksud dari ini. Kami tetap mengikuti jalannya pertunjukan. Keluar kembali seekor kera yang sangat lucu. Tingkah kera tersebut membuat para penonton tertawa, termasuk para turis. Walaupun kami yakin mereka tidak mengerti.



















Lama – lama kami mulai mengerti maksud dari pertunjukan ini. Tari barong menggambarkan pertarungan antara kebajikan melawan kebatilan. Barong adalah makhluk mitologi melukiskan kebajikan dan rangda adalah yang maha dahsyat menggambarkan kebatilan.

DICEKAL TAPI CIRI KHAS
Pertunjukan telah selesai dan pertunjukan tersebut berhasil memukau kami. Semenjak kedatangan kami di Bali sampai pertunjukan tadi, ada satu hal yang kami rasakan sangat berbeda. Yaitu soal perilaku masyarakat Bali yang menurut kami sangat pornografi. Mulai dari perkataan sampai kesenian tradisional dihubungkan dengan pornografi.
Selidik punya selidik, ternyata masyarakat Bali menghalalkan pornografi. Bagi mereka seni adalah segalanya dan semua yang bersangkutan dengan seni, termasuk pornografi, mereka anggap itu biasa. Itu untuk mereka masyarakat Bali, untuk kami yang baru beberapa belas jam di Bali sangat risih. Mungkin kami belum terbiasa.
Sekarang kami tahu mengapa ketika ada undang – undang anti pornografi adalah Pulau Bali dan masyarakatnya yang paling gencar menolak. Kesenian dan kebudayaan Pulau Bali memang bersangkutan dengan pornografi. Toh kesenian Bali kebudayaan Indonesia juga yang patut dibanggakan.




ITS TIME TO SHOPING!!
Ini waktu untuk para wanita, belanja!!! Pertama kami mengunjungi pusat belanja di Karang Kurnia. Di sana tersedia banyak macam baju, tas, dan aksesoris. Terlihat para pria tidak ingin kalah untuk memuaskan dahaga balanja. Apalagi Pak Hasyim, guru agama itu sangat bersemangat memunguti satu persatu barang yang tersedia.
Setelah Karang Kurnia, kami menuju kerajinan perak Bali. Di sana tersedia macam – macam bentuk kerajianan dari perak. Harganya bervariasi, dari puluhan ribu hingga puluhan juta. Tapi buat kami para pelajar diberikan potongan setengah harga. Bentuk barang sangat menarik, ada bentuk kapal, patung dewa, Pulau Bali, ataupun mobil sekalipun.
Belum puas hanya 2 tempat, selanjutnya kami menuju kerajianan batik Bali. Tidak kalah dengan 2 tempat sebelumnya, di sini kami juga di beri potongan setengah harga. Kami bisa melihat perbedaan yang sangat mencolok antara batik Bali dengan batik Jawa.
Sudah lelah dengan wisata belanja, kami langsung menuju RM. Cahayu. Di sana kami akan istirahat sejenak sambil makan siang dan membeli oleh – oleh makanan khas Bali.
Soal tempat mungkin tidak terlalu nyaman, tapi makanan yang tersedia sangat lengkap. Walaupun bagi kami tidak terlalu mengerti tentang makanan Bali. Bagi kami yang penting adalah membawa oleh – oleh sebanyak mungkin dari Pulau Dewata.
Selesai makan, perut kenyang, belanjaan banyak, kami siap melanjutkan perjalanan. Kali ini kami akan menuju kawasan yang paling indah kedua setelah Pantai Kuta, yaitu Bukit Kintamani. Bali Jaya bilang bahwa Bukit Kintamani adalah daerah gunung yang sangat dingin. Kami diharuskan memakai sweater atau jaket.
Perjalanan dari RM. Cahayu menuju Bukit Kintamani memakan waktu 1 setengah jam. Bayangkan apabila kami harus mendengarkan Beli Jaya bicara menggunakan mikrofon selama itu. Akhirnya kami memilih untuk tidur, mengisi tenaga untuk di Bukit Kintamani. Bagi kami, Beli Jaya seperti pendongeng yang sangat ulung. Membuat banyak di anatar kami tertidur pulas. Hanya Adit dan Octa yang memperhatikan Beli Jaya berbicara.
Kami merasa telah dekat dengan Bukit Kintamani. Itu karena telinga kami mulai terasa berdengung. Tidak lama kemudian, pukul 5 waktu setempat kami tiba di Bukit Kintamani. Memang benar, di sini sangat dingin. Tapi lagi – lagi kami dipesankan oleh Kak Wiwit agar jangan membeli dan mendekati pedagang. Karena pedagang di sini sifatnya sangat memaksa.
Di Bukit Kintamani memang tidak ada apa – apa, tapi pemandangannya tidak kalah dengan pegunungan Alpen di Swiss. Di seberang Bukit, terdapat danau yang bisa berubah warna, Danau Batur namanya. Kami sungguh tidak bisa mengungkapkan betapa indahnya Bukit Kintamani. Orang salah bila menyebutkan Bali hanyalah Pantai Kuta, tapi Bali juga punya Kintamani.















Dari Kintamani, kami langsung turun gunung menuju salah satu tempat kerajinan bed cover di Baruna. Lagi – lagi Beli Jaya menerangkan tentang tempat yang akan kami tuju. Dan lagi – lagi juga kami tertidur. Seperti biasa hanya Octa dan Adit yang memperhatikan. Bahkan Adit bertanya dengan mengeluarkan hadist Islam. Lantas Beli Jaya bingung.
Sampai di Baruna sudah malam. Kami merasa sangat lelah. Hanya sebagian dari kami yang turun dari bis untuk solat mahgrib dan melihat – lihat. Sisanya tidur di bis. Ternyata kami diberi potongan setengah harga lagi. Bed cover di sini tidak kalah dengan yang di Ibu Kota. Motif dan model sangat menarik. Tidak hanya bed cover, ada kerajianan tangan lainnya yang diperjualbelikan di sini. Seperti patung kayu dan baju.
Malam semakin gelap. Perut semakin lapar. Tidak jauh dari Baruna ada satu restoran mewah yang akan kami kunjungi. Di sini kami benar – benar disambut bak seorang raja. Kami diberi bunga di telinga seperti orang Bali. Makanannya juga sangat enak. Pelayanan yang sangat memuaskan.
Bagasi bis penuh, perut kami juga penuh. Saatnya untuk pulang ke hotel. Mungkin Beli jaya kehabisan tenaga jadi untuk saat ini beliau tidak berkicau. Kami senang. Bu Nartini bisa tidur dengan nyenyak.

NILAM KENAPA?
Satu insiden lagi di perjalanan ini. Ketika kami akan menuju pulang ke hotel, suara kepanikan muncul dari belakang bis. Ada yang teriak darah. Ternyata Nilam sedang terluka. Kuku jempol kaki kanannya lepas semua. Lantas darah bercucuran keluar dari kakinya. Kak Wiwit lasung dengan sigap mengobati kaki Nilam. Mungkin Kak Wiwit sudah biasa menghadapi hal seperti ini.



“Yang paling berharga bukanlah documenter, foto, ataupun kata mutiara. Yang paling berharga adalah dapat berkumpul, tertawa, dan diringankan bebannya oleh para sahabat”
(Octa Frida Sania)


















CATATAN 4
Jum’at, 8 Mei 2009
Hari ini mungkin akan menjadi hari yang paling menyenangkan di Bali. Kami akan mengunjungi tempat yang kata oaring terindah di Bali, Pantai Kuta. Sebelum itu kami akan menuju ke Pantai Tanjung Benoa untuk menikmati sarana rekreasi air seperti banana boat, speed boat, ataupun parasailing.
Dari hotel kami memakan waktu 1 jam untuk tiba di Tanjung Benoa. Dari hotel kami sudah mempersiapkan baju ganti, karena kami tahu di sana kami pasti akan bermain air.
Haduh ,, seperti biasa Beli Jaya mulai menjelaskan tentang Tanjung Benoa. Setelah menjelaskan, Beli Jaya membuka sesi pertanyaan yang hanya diisi oleh Adit dan Octa.
Sesampainya kami di Tanjung Benoa, kami disambut oleh deru ombak yang tenang. Pasir putih mulai tampak dari pelataran parkir bis kami. Kami sungguh tidak sabar untuk mencoba segala yang ada di Tanjung Benoa.
Beberapa dari kami langsung membeli tiket untuk beberapa sarana rekreasi. Ada yang ke Pulau Penyu, tapi ada juga yang langsung ingin basah dengan menaiki banana boat.

PULAU PENYU TARUHAN NYAWA
Laksmi, Octa, Ayu, Ola, Nabilah, Ria, Rena, Claudya, Fina, dan Raka menjadi 1 kapal untuk menuju ke Pulau Penyu. Mereka hanya didampingi oleh Pak Kusyoto, seorang guru Bahasa Inggris. Mereka sangat senang bisa bersama menikmati angin di tengah laut dengan ombak yang tenang dan laut yang jernih.
Tujuan pertama mereka untuk melihat pemandangan ikan di bawah laut. Sesampainya di tengah laut, mereka merasa bahwa ombak semakin kencang. Tapi itu tidak membuat mereka peduli. Karena mereka sedang mencari ikan untuk diberi makan. Tiba – tiba kapal mati. Pengemudi kapal mencoba menghidupkan kembali. Tapi ternyata, mesin tidak kunjung hidup. Mereka mulai panik karena ombak setinggi 2 meter terus menerus menghantam kapal mereka yang siap terguling kapan saja. Ola dan Nabilah mulai komat – kamit tentang kematian. Ayu mulai menangis. Octa mulai muntah. Rena yang biasanya cerewet, sekarang hanya bisa terdiam menanti keajaiban. Pengemudi kapal minta bantuan kepada kapal lain untuk dipanggilkan kapal kosong. Mereka menunggu lama sekali. Pak Kusnyoto mulai kesal dengan amatirnya pengemudi kapal.
Kapal kosong sudah tiba. Kami diharuskan berpindah kapal, masalahnya di tengah ombak yang besar. Raka dan Pak Kusnyoto sebagai lelaki memberi pertolongan kepada yang lain. Pak Kusnyoto berpindah kapal terlebih dahulu sementara Raka memegangi mereka yang akan pindah dari kapal yang rusak. Laksmi adalah yang paling sulit untuk berpindah kapal. Mungkin karena badannya yang besar, Laksmi hampir terpeleset jatuh ke laut saat berpindah.
Setelah semua pindah, mereka langsung minta diantar ke daratan. Ternyata pengemudi kapal itu masih amatiran. Baru 4 bulan bisa mengendarai kapal. Semua tampang mereka masih pucat, terutama Octa yang masih muntah – muntah ke laut.
Hari sudah siang, seharusnya kami melaksanakan solat Jum’at, tapi karena di Bali sangat susah untuk menemukan masjid, jadi kami hanya melaksanakan solat dzuhur biasa.
Kami beranjak dari Tanjung Benoa menuju Patung GWK. Patung GWK adalah patung Dewa Wisnu yang sedang menunggangi burung garuda. Direncanakan patung ini akan menjadi patung tertinggi di dunia. Patung ini merupakan karya Bapak Nyoman Nuarta, seorang seniman patung di Bali.
Di areal Patung GWK, pemandangannya begitu mempesona. Karena bisa dibilang Patung GWK terletak di atas gunung. Hanya 1 kekurangannya, areal ini terlalu tandus. Sinar matahari sangat menyengat.





















Kami tidak ingin terlalu lama berada di GWK. Karena di sini memang sangat panas. Apalagi setelah ini kami akan belanja di tempat yang paling terkenal di Bali, Joger!!
Kata Beli Jaya, Joger itu singkatan dari Joseph dan Gerhofp. Mereka adalah 2 sekawan yang berkuliah di Belanda. Joseph yang asli orang Bali bekerja sama dengan Gerhofp membuka usaha kaos kata – kata. Ternyata itu menjadi satu di antara ikon Bali.
Joger berdekatan dengan Pantai Kuta. Tapi kami tidak menuju langsung ke Pantai Kuta karena kendaraan kami dilarang masuk areal Kuta. Semua kendaraan yang panjangnya lebih dari 10 meter dilarang masuk Kuta. Karena itu kami menuju sentral parkir Kuta.
Dari sentral parkir Kuta kami menaiki angkutan umum khas Bali, Komotra. Uniknya, walaupun Komotra sama besarnya dengan angkot di Jakarta, Komotra bergaya seperti mobil bak terbuka. Dengan gambar dan warna yang menarik. Satu lagi, kami harus mau berdesakan karena pengemudi tidak akan jalan apabila penumpangnya belum 25 orang. Jadi kami harus saling pangku.
Tujuan pertama kami ke Joger. Siapa yang tidak tahu Joger? Bila Amerika punya Levis, Bali punya Joger. Joger lebih dikenal dengan pusatnya kata – kata menarik. Dari baju, sandal, tas, sampai aksesoris bertuliskan kata – kata yang menarik. Untuk harga terbilang cukup mahal. Untuk 1 kaosnya dihargai paling murah 50 ribu. Ada hal yang unik di Joger apabila dibandingkan dengan toko baju yang lain. Di sini kami tidak boleh membeli barang lebih dari 11 item. Kata penjaganya, “Biar semua kebagian”. Unik ya, disaat semua toko ingin banyak laku, tapi di Joger membeli saja harus dibatasi.
PENGEMIS MASANG TARIF?!
Keluar dari Joger, kami harus ke Pantai Kuta untuk melihat sunset. Tapi kami harus naik angkutan umum untuk bisa sampai di Kuta. Setelah kami keluar dari Joger, ternyata telah banyak pengemis yang menanti kami. Lantas kami langsung disodori tangan dan mereka berkata “De ,, seribunya de ,, belum makan de ,, cepet de ,, seribunya aja”. Dengan sangat memaksa mereka seperti itu. Kami sangat risih dengan keadaan seperti itu. Kami cepat – cepat menyelamatkan diri masuk ke angkutan umum.
Kami sedang dalam perjalanan menuju tempat yang paling indah di Bali. Kami mulai memasuki areal pertokoan, terlihat banyak turis dari mancanegara. Angkutan yang kami naiki berjalan sangat cepat. Tidak ada bedanya dengan di Jakarta.
Sesampainya kami di Kuta, langit mulai sangat mendung. Sepertinya kami akan gagal melihat sunset. Ombak di pantai ini sangat besar, tidak heran sering ada turis yang bermain surfing di sini.
Walaupun kami tidak bisa melihat sunset, kami tetap manikmati pasir putih dan ombak yang bergulung deras. Di sini kami tidak bisa lama – lama, karena kami harus segera kembali ke sentral parkir Kuta.























Malam ini adalah malam terakhir kami di Bali. Walaupun kami sangat senang di sini, tapi kami tetap rindu orang tua, rindu Pulau Jawa, rindu makanan rumah. Seperti Ily yang mulai menangis karena rindu dengan orang tua, bukan hanya karena riindu, tapi juga karena uang sakunya telah habis.





WATERMELON
Mengiringi perjalanan pulang kami ke hotel, kami meminta Beli Jaya untuk bernyanyi. Kemarin sempat terlontar dari mulut Beli Jaya bahwa beliau juga seorang vokalis. Pertamanya memang tampak malu – malu, tapi lama kelamaan Beli Jaya mulai menikmati dalam bernyanyi.
Hingga Beli Jaya menawarkan untuk membawakan lagu ciptaannya sendiri. Lantas kami sangat penasaran. Lagu dengan judul Watermelon mulai dibawakan.

Watermelon ,,,,, Watermelon …..

Banana ,,,,, Banana …..

Eeee ,, Papaya ,,,,, eeee ,, Papaya …..

Rambutan ,,,,, Rambutan …..

Beli Jaya membawakan lagu tersebut dengan peragaan yang cukup porno. Walaupun porno, kami tetap tertawa mendengar dan melihat peragaan dari Beli Jaya. Beliau mengaku mendapat inspirasi dari para turis yang sedang berjemur di Pantai Kuta.
Di hotel, kami harus segera berkemas. Karena besok pagi kami langsung akan chek out meninggalkan hotel untuk menuju ke Yogyakarta. Kami tidak melewatkan saat – saat bersama untuk terakhir kalinya di Bali. Kami akan merindukan semua ini.


“Always respect to your friends, don’t ever become superior person because equal relationship is the most beautiful one”
(Fina Dwi Rachmawati)






















CATATAN 5
Sabtu, 9 Mei 2009
Kami sudah mandi, sudah sarapan, barang sudah di bagasi bis semua. Selamat tinggal Hotel Gatsu!!! Kami berangkat untuk menikmati wisata terakhir kami di Bali. Ada 2 objek lagi, yaitu Pura Alas Kedaton dan Pura Tanah Lot. Hari ini mungkin hari yang sial bagi perempuan yang sedang dating bulan, karena tempat yang akan kami kunjungi adalah tempat suci.
Pertama ke Pura Tanah Lot. Pura ini terletak di sebuah pulau kecil di tengah laut. Dengan dikelilingi pemandangan yang indah, Pura Tanah Lot tampak mempesona. Di sini ada hewan yang disucikan, yaitu ular. Entah mengapa.
Yang menjadi misteri bagi kami, bagaimana orang dapat menyebrang ke pura yang di tengah laut. Karena tidak mungkin untuk menggunakan kapal karena ombak sangat besar dan dikelilingi oleh batu karang. Misteri itu terpecahkan ketika Alfina, Raka, Esal, Agung, dan Adit diajak oleh para beli untuk menyebrang ke pura. Ternyata hanya dengan berjalan kaki untuk menyebrang ke pura. Air laut hanya setinggi paha, tapi ombak besar yang membuat mereka basah kuyub. Di pura itu ada 1 sumber mata air yang dikeramatkan, namanya air suci.

















Dari Pura Tanah Lot, kami bergegas menuju Pura Alas Kedaton. Di pura ini sangat unik, karena dihuni oleh ratusan kera liar tapi jinak. Kata Beli Jaya, pura ini dibangun dengan tujuan tempat penampungan kera.
Di sini, ratusan kera dilepas ke alam bebas tanpa diawasi. Bukan hanya ke hutan, tapi juga ke pelataran parkir. Di sini juga terdapat kalong, hewan sejenis kelelawar tapi memakan biji – bijian.










PEDAGANG KOK MAKSA?!
Ini saat – saat terakhir untuk belanja di Pulau Dewata. Pasar Sukawati tujuan wisata terakhir kami. Pasar Sukawati bisa dibilang adalah Pasar Tanah Abangnya Bali. Kata Beli Jaya, di pasar ini tersedia berbagai barang “duplikat” dari berbagai toko resmi di Bali, termasuk Joger. Semua itu dijual dengan harga yang murah, dan tentu dengan kualitas yang sangat rendah. Apabila ada barang yang sangat mahal, kami bisa menawarnya dengan sesuai keinginan kami.
Ada 1 kerisihan kami pada saat berada di Pasar Sukawati. Pedagang di sini mempunyai sifat yang sangat memaksa. Itu membuat kami sangat sungkan untuk membeli ataupun menawar. Ketika kami tidak tertarik untuk membeli, pedagang itu tetap memaksa untuk membeli, walaupun dengan harga yang sangat murah. Kadang kami sampai diteriaki dari jauh oleh sang pedagang.
Memang, di sini kami cukup kaget ketika melihat kaos yang sangat mirip di Joger dijual dengan harga awal 15 ribu, padahal di Joger dijual dengan harga 50 ribu. Tapi kami ingat bahwa barang di sini dijual dengan tidak ada kualitasnya.

SAY GOOD BYE TO BELI JAYA!!
Entah kami harus senang atau harus sedih. Kami harus berpisah dengan Beli Jaya. Memang pertama kali kami bertemu dengan Beli Jaya, beliau terkesan sangat mencari perhatian dan membosankan. Tapi lama kelamaan kami sangat respek dengan Beli Jaya. Selama 3 hari kami di Bali, beliau yang selalu menemani kami dari pagi hingga malam. Beli Jayalah yang memberi kami ilmu tentang Pulau Bali. Beli Jayalah yang menyanyi untuk kami.
Beli Jaya turun dari bis kami di persimpangan jalan ketika kami berjalan menuju Pelabuhan Gilimanuk. Ketika Beliau mengucapkan selamat tinggal kepada kami, air mata yang harusnya turun dari kelopak mata kami, tertahan karena kami sadar betapa tidak pantasnya melepas seorang yang sangat spesial dengan air mata. Ketika Beli Jaya mulai menapaki, menuruni tangga bis untuk meninggalkan kami, hati kami serentak mengucapkan selamat tinggal Beli, semoga suatu saat nanti kami bisa bertemu Beli lagi!!

Kami mulai merasa lelah diselimuti rasa sedih sesudah berpisah dengan seorang yang sangat spesial. Kami mulai tertidur satu persatu. Ketika kami terbangun, kami tiba di sebuah masjid di tengah perkampungan Islam. Di sini kami akan melaksanakan solat dzuhur dan ashar.
Mungkin setelah itu tidak ada yang terlalu spesial buat kami. Kami hanya tertidur sampai kami tiba di Pelabuahan Gilimanuk. Senja mulai turun pada saat kapal kami merapat. Di sini kami terpisah dengan 4 bis lainnya. Kami hanya bergabung oleh bis anak IPS.

KAMI MERASA DI TITANIC
Kali ini kami mendapat kapal yang bagian atasnya terbuka. Kami berusaha menikmati untuk terakhir kalinya angina Bali dari atas kapal. Katika kapal mulai bergoyang membawa kami meninggalkan Bali, kami mulai merasakan derasnya angina laut yang memaksa kami untuk menuju dek kapal.
Saat kapal berada di tengah laut, gelombang yang deras membuat sebagian dari kami mulai mual dan muntah. Kami merasa gelombang mulai sangat deras. Kapal bergoyang keras memaksa sebagian anak IPS mulai ketakutan. Kami yang tidak mempunyai pengalaman dengan kapal dan laut, mulai teringat dengan film titanic. Kami tidak ingin berakhir seperti titanic.
Dengan masih ketakutan, Pak Andi menggiring kami untuk masuk ke dalam bis. Di dalam bis, kami mulai sedikit merasa tenang. Kami hanya tinggal menunggu kapal kami merapat di Pelabuhan Ketapang. Perbedaan waktu yang 1 jam membuat kami sampai di Jawa tepat pukul 6. Kami merasa bersyukur, kami masih bisa selamat sampai di seberang.
Kami mampir sebentar di satu rumah makan untuk makan malam dan solat sebelum kami melanjutkan perjalanan mnuju Yogyakarta. Setelah kami makan, Pak Tisna berganti dengan Pak Revan, dan kami kembali tidur.



“Memory in Kuta beach is beautiful but memory with XI IPA 1 more than beautiful”
(Chairunnisa)



















CATATAN 6
Minggu, 10 Mei 2009
Selamat pagi!!! Kami semua terbangun sudah di daerah Jawa Timur memasuki Jawa Tengah. Pukul setengah 6 kami berhenti untuk solat subuh. Kami melanjutkan perjalanan menuju Solo untuk sarapan di suatu rumah makan. Kembali, kami adalah bis pertama yang tiba di rumah makan ini. Kami merasa beruntung, karena kami bisa mandi tanpa antri. Setelah kami mandi, kami melanjutkan dengan sarapan. Bisa dibilang makanannya sangat enak dan tempatnya sangat nyaman.
Di sini kami berhenti cukup lama. Karena kami dan siswa lain sibuk untuk mengisi baterai hp. Para guru sibuk ngobrol di pekarangan rumah makan. Para supir sibuk mencuci bis mereka masing – masing.

HEII!! SIGIT KENAPA TUH?!
Dari Solo, perjalanan menuju Yogyakarta hanya 2 jam. Tujuan pertama kami adalah keraton Yogya. Di tengah perjalanan, ada suatu insiden yang entah bisa dibilang lucu atau jorok.
Dari bagian belakang bis tercium bau yang tidak sedap. Kami mengira seperti biasa Satria buang angina. Karena Satria sudah sangat biasa buang angina sembarangan. Tapi ternyata bau ini bukan berasal dari Satria. Satria juga berkeras hati bahwa bukan dia yang buang angin. Bau yang sudah menyebar keseisi bis memaksa Sigit untuk tersenyum malu. Ternyata Sigit yang buang angin. Bahkan, Sigit mengaku dia sudah kebelet ingin buang air besar. Kami lantas memaksa Pak Tisna untuk cepat membawa bis mencari SPBU. Entah kenapa, bau itu semakin menjadi. Sigit mengaku ada sesuatu cairan encer yang sudah keluar. Kami semua menjauhi Sigit dan menutup hidung. Saat ada SPBU, Pak Tisna langsung banting stir berbelok masuk SPBU. Kami langsung memaksa Sigit untuk keluar dari bis. Sigit lantas berlari menuju kamar mandi. Di kamar mandi Sigit masih harus mengantri.
Di dalam bis, kami berusaha menghilangkan bau tidak sedap bekas dari Sigit. Entah dengan parfum yang ada atau wangi – wangian. Sebanyak apa yang kami beri, tapi bau itu tetap bertahan. Terpaksa kami harus membuka pintu selama menunggu Sigit memuaskan dahaga perutnya.

RINTIK HUJAN DI KERATON
Disambut oleh rintik hujan, kami tiba di keraton Yogya. Sebagian dari kami langsung mencari kamar mandi. Ternyata bukan hanya Sigit yang mengalami maslahnya dengan perut. Kami mengira bahwa ini semua karena makanan yang kami makan pada saat sarapan di Solo.
Rintik hujan terus berlanjut pada saat kami menapaki lantai keraton. Menikmati peninggalan kerajaan yang masih aktif di Indonesia. Kami akui banyak peninggalan yang bersifat mistis. Cukup membuat kami merinding.
Bangunan yang masih terjaga sangat menggambar kejayaan keraton ini pada masa lampau dan sekarang. Pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono yang berhasil memajukan kota Yogyakarta sempat membawa pemimpin itu menjadi kandidat kuat presiden RI.
Kami sudah cukup puas berada di kerajaan Jawa ini. Kak Wiwit berpesan agar kami selalu menutup pintu bis. Karena pedagang di Jawa tidak sungkan untuk masuk ke dalam bis. Ternyata benar saja, karena kami lupa menutup pintu bis, seorang pengamen masuk ke dalam bis kami. Kami cukup kaget akan hal itu.
Next destination, Candi Prambanan. Tapi sebelum itu, para guru ingin beli bakpia dulu. Kami mampir ke toko bakpia yang cukup terkenal. Harganya? Bagi Raka dan Sigit yang asli orang Jawa, bakpia itu sangat mahal. Mungkin mereka berdua sangat tahu harga bakpia yang asli.
Di Candi Prambanan kami sangat prihatin peninggalan sejarahi itu hancur karena gempa beberapa waktu silam. Tapi hancurnya candi tidak mengurangi
keindahan candi itu.

























Sulit menggambarkan keindahan candi ini. Mungkin yang kami kenal selama ini hanyalah Candi Borobudur. Tapi Candi Prambanan tidak kalah indah. Memiliki halaman yang luas dan beberapa tempat pemujaan. Di sekelilingnya terdapat banyak pedagang dengan harga yang sangat murah.
Kami tidak mau lama – lama di sini, karena kami sangat mengejar waktu untuk chek in di hotel dan kembali pergi menuju malioboro. Sudah mahgrib saat kami tiba di hotel. Kali ini hotel kami sangatlah bagus. Dengan sistem pemondokan, kami menempati pondok yang telah disediakan. Kami tidak lama berberes, Karen kami harus segera berangkat kembali menuju malioboro. Hanya sebagian yang ikut, sebagian lainnya beristirahat di hotel.
Buat kami, tidak hanya hal yang istimewa pada saat di malioboro. Kami hanya belanja baju, belanja makanan, atau hanya sekedar berjalan – jalan. Kami cukup menikmati suasana malam di pusat kota pendidikan ini.
Keadaan kami yang sudah cukup lelah membuat kami tidak bisa lama untuk berada di malioboro. Kami segera kembali ke hotel untuk beristirahat. Sebenarnya kami belum puas untuk menikmati masa – masa akhir perjalanan kami.
“Phitagoras pantas mendarat di atas”
(Eka Nety Jayanti)
CATATAN 7
Senin, 11 Mei 2009
Hari ini hari terakhir kami bersama melakukan perjalanan. Hari ini kami harus kembali ke Ibu Kota. Bergelut bersama kesibukan kota besar dan kembali untuk berjuang dalam meraih nilai.
Pagi – pagi sekali kami bangun dan secara bergiliran untuk mandi. Sarapan kali ini sangat spesial, mungkin untuk perpisahan dengan kami. Kami sangat dimanjakan dengan makanan yang disediakan pihak hotel.
Tepat pukul 9 bis kami melangkah maju menuju Jakarta. Sepanjang perjalanan satu persatu dari kami maju untuk memberi kesan dan pesan. Oh ya, penghuni bis kami bertambah. Ada Nanda yang notabanenya anak IPS yang sangat dekat dengan kami anak IPA 1. dia biasa dipanggil Nancil. Orangnya lucu dengan suara kecilnya.
Hari ini turun hujan. Bis kami tidak mau terlalu terburu – buru untuk sampai di Jakarta. Kami mampir di Kota Cilacap untuk kembali membeli oleh – oleh. Kami mampir juga di rumah makan Jatilawang untuk makan malam. Selanjutnya biasa saja. Kami tertidur pulas.

INDAHNYA TASIKMALAYA
Senja mulai datang. Kami tiba di Tasikmalaya untuk makan malam dan seperti biasa kami yang pertama. Kami sangat terkagum – kagum dengan pemandangan kota kecil ini. Udara yang sejuk menambah segar pikiran kami.
Kami tidak melewatkan untuk berfoto bersama di tengah pemandangan yang sangat menakjubkan. Kami merasa seperti kembali ke Bali. Tapi ini Jawa. Dan dengan ini terbukti bahwa Indonesia bukan hanya Bali.



Pada saat – saat inilah rasa kekeluargaan kami sangat tinggi. Kami merasa tidak ingin cepat – cepat tiba di Jakarta. Kami sudah merasa puas dengan kekeluargaan kami seperti ini. Namun apa boleh dikata, kami tetap harus pulang. Keluarga kami yang sebenarnya sudah menanti di rumah.

SAMBUTAN IBU KOTA
Hujan deras mengiringi kedatangan kami di Jakarta. Dengan rasa lelah dan letih kami berusaha membenahi semua barang bawaan kami. Mungkin kami berangkat dengan sedikit barang, tapi kami sangat banyak membeli oleh – oleh untuk orang di rumah.
Pukul 11 malam. Kami tiba di sekolah tercinta. Ini akhir perjalanan kami. Kembali, kami harus merasakan perpisahan dengan Kak Wiwit. Seorang perempuan yang menemani kami selama 7 hari penuh. Serta perpisahan dengan keluarga besar phitagoras.


“Yang akan ku ridukan bukanlah Pantai Kuta atau Tanjung Benoa, tetapi kebersamaan kami yang tidak akan ku temui di manapun”
(Raka Eka Pramudito)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar